Dalam tulisan ini
Pada April 2026, aku melihat saham BFI Finance Indonesia (BFIN) di sekitar Rp660. Setelah membedah bisnis dan laporan keuangannya, menurutku nilai wajarnya ada di sekitar Rp1.100.
Sejujurnya, jarak itu yang bikin aku tertarik.
Ada perusahaan yang masih menghasilkan laba, punya modal, dan menjalankan bisnis yang bisa kupahami. Lalu pasar menawarkan harganya cukup jauh di bawah penilaianku. Aku ingin tahu apakah memang ada peluang, atau ada masalah yang belum kulihat.
Lima bulan kemudian, harganya mulai mendekati angka yang kubayangkan. Pada 7 September 2026, saham BFI Finance ditutup di Rp1.015. Dari acuan Rp660 pada April, kenaikan harganya sekitar 53,8%, sebelum dividen, biaya, dan pajak.
Sumber: Riwayat harga BFI Finance.
Tentu aku senang melihatnya. Ada kepuasan ketika waktu yang dipakai buat membaca laporan dan memahami perusahaan mulai terasa hasilnya.
Pengalaman ini juga membuatku ingin menjelaskan prosesnya. Apa yang sebenarnya kulihat di Rp660? Kenapa aku menilai bisnisnya lebih tinggi? Dan setelah harganya naik, apakah alasan untuk membelinya masih sama kuat?
Jarak antara harga dan penilaianku mulai mengecil.
Kenaikan harga dari acuan April ke 7 September 2026.
Sebelum dividen, biaya, dan pajak.
Buatku, harga saham baru menarik setelah aku tahu apa yang kudapat dari harga itu.
Kalau hanya melihat angka Rp660, kita belum tahu banyak. Kita perlu menghubungkannya dengan laba, modal, kualitas bisnis, dan kemungkinan perusahaan itu berkembang.
Cara berpikir ini biasa disebut value investing: mencari bisnis yang bisa dibeli di bawah perkiraan nilainya.
Bagian sulitnya ada di kata “perkiraan”. Kita bisa salah menilai bisnis, terlalu optimistis terhadap masa depannya, atau melewatkan masalah yang ternyata besar. Jadi, aku perlu punya alasan yang lebih kuat daripada sekadar merasa harganya sudah turun banyak.
Untuk BFI Finance, aku mulai dari hal paling dasar: memahami bagaimana perusahaan ini menghasilkan uang.
BFI Finance adalah perusahaan pembiayaan. Perusahaan menyalurkan pembiayaan kepada nasabah dan memperoleh pendapatan dari kegiatan tersebut. Pendapatan itu kemudian dipakai untuk membayar biaya pendanaan, karyawan, operasional, kerugian pembiayaan, dan pajak.
Setelah semua itu diperhitungkan, barulah ada laba.
Sampai sini, bisnisnya cukup mudah dibayangkan. Tantangannya adalah memastikan uang yang disalurkan bisa kembali dengan hasil yang sepadan.
Kalau pembiayaannya tumbuh cepat tetapi semakin banyak nasabah kesulitan membayar, pertumbuhan yang awalnya kelihatan bagus bisa berubah menjadi masalah. Karena itu, aku perlu memperhatikan kualitas pembiayaan bersamaan dengan pertumbuhannya.
Lalu aku melihat beberapa tahun laporan keuangannya.
Pendapatan naik. Laba belum kembali ke 2023.
Pendapatan
Rp miliar · sumbu mulai 0
Laba tahun berjalan
Rp miliar · sumbu mulai 0
Ada bagian yang menarik, dan ada bagian yang perlu diperhatikan.
Pendapatan 2025 lebih tinggi daripada 2023. Tapi labanya belum kembali ke level 2023. Artinya, bertambahnya pendapatan belum menghasilkan peningkatan laba yang sebanding.
Aku rasa bagian seperti ini perlu tetap ada dalam tulisan investasi. Kalau hanya mengambil angka yang mendukung pendapatku, aku justru kehilangan kesempatan untuk melihat kelemahannya.
Pertanyaanku kemudian menjadi lebih spesifik: dengan laba yang masih bisa dihasilkan perusahaan, apakah harga Rp660 sudah mencerminkan bisnisnya secara masuk akal?
Di sinilah laba per saham mulai membantu.
Istilahnya EPS, singkatan dari Earnings per Share. EPS menunjukkan laba yang tersedia untuk setiap lembar saham biasa, menggunakan jumlah saham rata-rata selama periode laporan.
Untuk 2025, EPS dasar BFI Finance yang dilaporkan adalah Rp103, dibandingkan Rp104 pada 2024.
Sumber: Ringkasan hasil keuangan 2025.
Dengan angka itu, harga Rp660 jadi punya konteks:
Rasio tersebut disebut PER atau PE, kependekan dari Price to Earnings Ratio.
Sederhananya, untuk setiap Rp1 laba tahunan per saham, aku membayar sekitar Rp6,40.
Pada harga Rp1.015, dengan memakai EPS yang sama, angkanya menjadi sekitar 9,9 kali laba. Bisnisnya sama, tetapi harga yang harus dibayar untuk basis laba tersebut sudah berbeda.
Aku sengaja memakai EPS 2025 yang tetap supaya perbandingannya jelas. Angka ini bukan PER terbaru yang sudah memperhitungkan seluruh perkembangan laba setelah 2025.
PER juga gak bisa berdiri sendiri. Kalau laba perusahaan turun jauh tahun depan, harga yang sekarang kelihatan murah bisa ternyata mahal. Dan PER 6,4 kali gak berarti uangku pasti kembali dalam 6,4 tahun, karena laba bisa berubah dan sebagian perlu ditahan perusahaan.
Setelah memahami harga terhadap laba, aku ingin tahu kualitas laba itu sendiri.
Di sini aku melihat ROE, atau Return on Equity: seberapa produktif modal pemegang saham dipakai untuk menghasilkan laba.
Bayangkan sebuah usaha memakai rata-rata modal Rp100 dan menghasilkan laba setahun Rp15. ROE-nya sekitar 15%.
Buatku, ini pertanyaan yang masuk akal sebagai calon pemilik bisnis: uang yang ditaruh di dalam perusahaan menghasilkan apa?
Tapi aku tetap perlu melihat penyebabnya. ROE bisa terlihat tinggi karena perusahaan memakai banyak utang, modalnya mengecil, atau ada keuntungan yang hanya muncul sekali.
Lalu ada PBV, atau Price to Book Value. Rasio ini membandingkan harga saham dengan nilai buku modal bersih per saham.
PBV satu kali berarti harga saham sama dengan nilai buku per sahamnya. Di bawah satu kali berarti pasar menghargainya lebih rendah daripada nilai buku tersebut.
Kedengarannya menarik. Namun, untuk perusahaan pembiayaan, aku perlu memeriksa apakah piutang yang tercatat sebagai aset memang bisa ditagih. Angka di neraca perlu didukung kualitas aset yang baik.
Jadi, aku membaca semuanya bersama-sama: kemampuan menghasilkan laba, produktivitas modal, kualitas pembiayaan, dan harga yang ditawarkan.
Setelah itu, barulah aku mencoba menghitung nilai yang masuk akal.
Untuk menjelaskan caranya, model di bawah aku susun ulang memakai EPS 2025 sebagai dasar. Pertumbuhan 7%, PE 10 kali, dan tingkat diskonto 12% adalah asumsi ilustrasi, bukan salinan parameter model yang terdokumentasi pada April.
Cara pertama memakai PE.
Kalau EPS Rp103 tumbuh 7%, perkiraan EPS untuk 12 bulan berikutnya menjadi Rp110,21. Dengan asumsi laba setahun ke depan itu layak dihargai 10 kali pada saat penilaian:
= Rp1.102,10 per saham.
Dari sini, kita bisa melihat bagaimana angka sekitar Rp1.100 terbentuk.
Perkaliannya sederhana. Yang perlu dipikirkan matang-matang adalah alasan memilih pertumbuhan 7% dan harga 10 kali laba.
Angka 10 kali di sini merupakan asumsi. Untuk menguatkannya, aku perlu membandingkan sejarah valuasi perusahaan dan bisnis sejenis yang punya kualitas, pertumbuhan, serta risiko yang sebanding.
Aku juga perlu melihat hasilnya kalau keadaan berbeda dari perkiraanku.
Satu bisnis. Tiga hasil penilaian.
| Skenario | Growth EPS | EPS 12 bulan | Forward PE | Nilai indikatif |
|---|---|---|---|---|
| Laba bertahan | 0% | Rp103,00 | 8× | Rp824 |
| Dasar | 7% | Rp110,21 | 10× | Rp1.102 |
| Pertumbuhan lebih kuat | 10% | Rp113,30 | 12× | Rp1.360 |
Pada harga Rp660, ketiga skenario ini masih menghasilkan nilai yang lebih tinggi daripada harga masuk.
Tapi itu belum menjamin keamanan. Ketiganya masih mengasumsikan laba bertahan atau tumbuh. Kalau laba turun 30% dan pasar hanya bersedia membayar 6 kali laba, hasil perhitungannya menjadi sekitar Rp433.
Aku perlu melihat kemungkinan seperti itu juga. Selisih harga terhadap estimasi nilai wajar bisa memberi ruang untuk kesalahan, tetapi gak menghapus kemungkinan rugi.
Lalu muncul pertanyaan berikutnya: dari mana pertumbuhan itu akan datang?
Untuk BFI Finance, aku perlu melihat apakah pembiayaan produktifnya bisa bertambah, biaya pendanaannya terkendali, dan kerugian pembiayaannya bisa dijaga.
Kalau EPS Rp103 tumbuh 7% setiap tahun selama lima tahun, angkanya menjadi sekitar Rp144 per saham pada tahun kelima. Kalau pertumbuhannya 10%, menjadi sekitar Rp166. Kalau gak tumbuh, tetap Rp103.
Itu adalah skenario dengan jumlah saham yang diasumsikan tetap. Setiap tahun model merupakan interval 12 bulan dari basis EPS 2025, bukan proyeksi resmi perusahaan.
Kalau labanya tumbuh, seperti apa lima tahun lagi?
Lihat angka grafik
| Periode | 0% / tahun | 7% / tahun | 10% / tahun |
|---|---|---|---|
| Dasar | 103,00 | 103,00 | 103,00 |
| Tahun 1 | 103,00 | 110,21 | 113,30 |
| Tahun 2 | 103,00 | 117,92 | 124,63 |
| Tahun 3 | 103,00 | 126,18 | 137,09 |
| Tahun 4 | 103,00 | 135,01 | 150,80 |
| Tahun 5 | 103,00 | 144,46 | 165,88 |
Pertumbuhan 7% juga berarti aku mengharapkan pemulihan dan perkembangan laba. Angka itu gak bisa dianggap kelanjutan otomatis dari riwayat kinerja yang tadi kita lihat.
Pertumbuhan membutuhkan modal. Sebagian laba mungkin perlu ditahan untuk mendukung pembiayaan yang lebih besar. Jadi, laba yang dihasilkan perusahaan belum tentu semuanya tersedia untuk dibagikan kepada pemegang saham.
Hal itu yang kemudian aku masukkan ke perhitungan DCF.
DCF adalah Discounted Cash Flow. Intinya, memperkirakan uang yang bisa tersedia bagi pemilik di masa depan, lalu menghitung nilainya sekarang.
Uang yang baru diterima beberapa tahun lagi punya nilai yang berbeda dari uang yang bisa diterima hari ini. Ada waktu tunggu dan risiko yang perlu diperhitungkan.
Untuk perusahaan pembiayaan, aku memakai pendekatan arus kas bagi pemegang saham, atau FCFE. Dalam ilustrasi ini, kas diperkirakan dari laba setelah kebutuhan tambahan modal. Pendekatan perusahaan keuangan memang perlu memperhatikan karakter pendanaan dan kebutuhan modalnya.
Sumber: Penjelasan valuasi perusahaan keuangan oleh Aswath Damodaran.
Asumsinya memakai EPS awal Rp103, pertumbuhan 7% selama lima tahun, dan ROE 15% untuk memperkirakan kebutuhan modal.
Tingkat pengembalian yang diminta investor diasumsikan 12% per tahun. Setelah tahun kelima, pertumbuhan diturunkan menjadi 4% dengan ROE 14%.
Dengan pendekatan sederhana pertumbuhan dibagi ROE, pertumbuhan 7% membutuhkan sekitar 46,7% laba untuk ditahan sebagai tambahan modal. Sisanya menjadi perkiraan kas yang berpotensi tersedia bagi pemegang saham, dengan asumsi pendanaan dan kebutuhan modal tetap sesuai model.
Setelah seluruh perkiraan kas dihitung ke nilai sekarang, termasuk periode setelah tahun kelima, hasilnya sekitar Rp1.001 per saham.
Dari laba ke uang yang dapat menjadi hak pemilik.
Buka perhitungan DCF per tahun
| Periode | EPS | Ditahan untuk modal | FCFE | Nilai sekarang |
|---|---|---|---|---|
| Tahun 1 | 110,21 | 51,43 | 58,78 | 52,48 |
| Tahun 2 | 117,92 | 55,03 | 62,89 | 50,14 |
| Tahun 3 | 126,18 | 58,88 | 67,30 | 47,90 |
| Tahun 4 | 135,01 | 63,01 | 72,01 | 45,76 |
| Tahun 5 | 144,46 | 67,42 | 77,05 | 43,72 |
Angka kas ini bukan janji dividen. Modelnya juga masih perlu diuji terhadap kebutuhan modal dan kondisi pendanaan yang sebenarnya.
Yang menarik, sekitar 76% nilai model berasal dari periode setelah tahun kelima. Artinya, hasilnya sangat dipengaruhi asumsi jangka panjang.
Kalau tingkat pengembalian yang diminta dinaikkan dari 12% menjadi 14%, dengan asumsi lain tetap, nilainya turun menjadi sekitar Rp785.
Buka perbandingan asumsi dan nilai DCF
Nilai wajar berubah saat tuntutan return berubah.
| Return yang diminta | Growth akhir 3% | Growth akhir 4% | Growth akhir 5% |
|---|---|---|---|
| 10% | Rp1.290 | Rp1.364 | Rp1.464 |
| 11% | Rp1.114 | Rp1.156 | Rp1.211 |
| 12% | Rp977 | Rp1.001Dasar | Rp1.030 |
| 13% | Rp868 | Rp881 | Rp895 |
| 14% | Rp780 | Rp785 | Rp791 |
Perubahan itu membuatku lebih sadar bahwa nilai wajar adalah hasil penilaian yang bisa bergerak. Spreadsheet bisa memberi hasil sampai dua angka desimal, sementara masa depan bisnis tetap penuh ketidakpastian.
Dalam ilustrasi ini, PE menghasilkan sekitar Rp1.102 dan DCF sekitar Rp1.001. Keduanya memberi rentang indikatif sekitar Rp1.000–Rp1.100, dengan sebagian asumsi yang sama. Hasil yang berdekatan membantu menguji logika, tetapi belum membuktikan bahwa penilaiannya pasti benar.
Setelah April, laporan semester pertama 2026 memberi informasi baru.
BFI Finance mencatat laba sekitar Rp828,9 miliar, tumbuh 8,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. ROE yang dilaporkan perusahaan mencapai 15,1%, dengan pembiayaan bermasalah bruto atau gross NPF 1,55% dan NPF neto 0,27%. ROE tersebut mengikuti penyajian laporan interim perusahaan.
Sumber: Kinerja semester pertama 2026.
Data itu membantu mengevaluasi penilaianku. Karena baru tersedia setelah April, aku menempatkannya sebagai perkembangan berikutnya.
Aku senang melihat laba tumbuh. Tapi pertumbuhan laba tersebut juga belum menjelaskan seluruh kenaikan harga saham. Sentimen, arus dana, berita perusahaan, dan perubahan harga yang bersedia dibayar investor bisa ikut berpengaruh.
Dan setelah harganya mencapai Rp1.015, keputusan investasinya perlu dilihat lagi.
Kalau estimasi nilai wajarku masih Rp1.100, perbandingannya seperti ini:
| Terhadap estimasi Rp1.100 | Acuan April: Rp660 | 7 September: Rp1.015 |
|---|---|---|
| Diskon terhadap estimasi nilai wajar | 40,0% | 7,7% |
| Potensi kenaikan menuju Rp1.100 | 66,7% | 8,4% |
Dua persentase itu berbeda karena pembaginya berbeda. Diskon dihitung dari nilai wajar, sedangkan potensi kenaikan dihitung dari harga masuk.
Pada Rp660, ada diskon 40% terhadap penilaianku. Itu memberi ruang kalau nilai sebenarnya ternyata lebih rendah daripada perkiraanku.
Pada Rp1.015, ruangnya sudah jauh mengecil. Bahkan, harga tersebut sedikit di atas hasil DCF dasar dalam ilustrasi tadi.
Jadi, ketertarikanku pada perusahaan perlu selalu dibaca bersama harga yang tersedia. Kalau mau menambah posisi, aku harus mengevaluasi lagi prospek laba dan nilainya. Perkembangan harga yang menyenangkan gak otomatis menjadi alasan untuk membeli lebih banyak.
Buatku, ini juga bagian dari mengenali risiko yang ingin kuambil: memahami apa yang bisa salah dan seberapa besar ruang kesalahan yang diberikan harga masuk.
Kalau kamu ingin mencoba cara berpikir yang sama, mulai dari satu perusahaan yang bisnisnya bisa kamu jelaskan dengan bahasa sendiri.
Cari tahu dari mana uangnya datang. Baca beberapa tahun laporan keuangannya. Lihat laba per saham, modal, dan risiko utamanya. Setelah itu, buat beberapa perkiraan nilai dengan alasan yang jelas.
Tulis juga apa yang bisa membuat penilaianmu berubah.
Untuk perusahaan pembiayaan, misalnya, kerugian pembiayaan yang terus memburuk, modal yang semakin tidak produktif, atau laba per saham yang terus tergerus perlu membuat kita berhenti dan memeriksa ulang.
Catatan seperti itu membantu kita mengevaluasi keputusan ketika informasi baru datang. Termasuk saat hasilnya kurang bagus.
Aku cukup senang dengan perkembangan BFI Finance sejauh ini. Ada kepuasan ketika analisis yang kubuat mulai mendekati kenyataan. Tapi aku juga ingin tetap bisa melihat kelemahan dalam penilaianku sendiri.
Pada April, Rp660 membuatku tertarik karena aku menilai bisnisnya lebih berharga daripada harga yang ditawarkan. Setelah harganya naik, aku kembali ke pertanyaan yang sama.
Dengan harga yang harus kubayar hari ini, apakah bisnis ini masih masuk akal buatku?