Aku gak tertarik membeli saham cuma karena namanya lagi ramai. Aku lebih suka bisnis yang masih bertumbuh, bisa kumengerti, dan harganya belum meminta semuanya berjalan sempurna.
Itu yang membuat dua perusahaan yang kelihatannya gak nyambung ini terus masuk ke daftar belanjaku: satu membantu bisnis Indonesia membeli dan mengelola teknologi, satu lagi memenuhi rak minimarket dengan yogurt, susu, dan makanan praktis.
Metrodata memberiku harga yang murah. Cimory memberiku pertumbuhan yang kuat. Keduanya memberiku alasan untuk tetap membeli—tanpa harus pura-pura yakin bahwa aku gak mungkin salah.
Nama lengkapnya PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) dan PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY). Setelah ini, aku akan menyebutnya Metrodata dan Cimory.
Per penutupan pasar 28 Agustus 2026, Metrodata dihargai sekitar 7,5 kali laba tahunannya. Cimory sekitar 16,8 kali. Keduanya berada di bawah cara pasar biasanya menghargai laba mereka selama tiga tahun terakhir.
Aku gak akan menyebut keduanya saham “wajib beli” untuk semua orang. Tapi buatku, keduanya sudah masuk kategori terlalu menarik untuk diabaikan.
00 / The case in 60 seconds
Kenapa Aku Masih Membeli Keduanya
Penjualan dan laba terus naik, kebutuhan teknologi perusahaan gak akan hilang, dan harganya cuma sekitar 7,5 kali laba.
Yang harus dijaga: uang tunai, persediaan, dan margin tipis.Penjualan 2023–2025 naik 38%, laba naik 64%, dan sekarang pasar membayar jauh lebih rendah daripada kebiasaannya sendiri.
Yang harus dijaga: margin, harga bahan baku, dan promo.Keputusanku sekarang
Aku masih membeli keduanya. Pelan-pelan, bukan all-in.
01 / Cheap for a reason
Metrodata: Murah, Pelan, tapi Sulit Digantikan
Metrodata mungkin bukan nama yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Kita gak melihat produknya dipajang seperti susu di supermarket. Kita juga gak melihat iklannya setiap hari.
Namun, saat sebuah perusahaan membutuhkan laptop, server, tempat menyimpan data, layanan cloud, keamanan digital, atau bantuan untuk membangun sistem teknologi, Metrodata bisa berada di belakang prosesnya.
Secara sederhana, bisnis Metrodata terbagi menjadi dua. Pertama, mereka menjadi penghubung antara berbagai merek teknologi dengan toko dan perusahaan di Indonesia. Kedua, mereka membantu perusahaan memilih, memasang, dan mengelola teknologi yang dibutuhkan.
Bagian pertama menghasilkan penjualan yang sangat besar, tetapi untungnya tipis. Bagian kedua ukurannya lebih kecil, tetapi biasanya bisa menghasilkan keuntungan yang lebih baik.
Buatku, Metrodata menarik karena teknologi sudah bukan lagi sesuatu yang bisa dipilih perusahaan. Mau gak mau, hampir semua bisnis harus memperbarui perangkat, menyimpan data dengan aman, menggunakan cloud, dan melindungi sistem mereka.
Bayangkan sebuah bisnis membuka 100 cabang.
Awalnya satu toko mungkin cukup memakai laptop dan aplikasi kasir. Tapi setelah punya 100 cabang, pemiliknya ingin tahu stok di setiap lokasi, penjualan hari ini, barang mana yang perlu dipesan, dan siapa yang boleh mengakses datanya. Semua sistem itu harus bisa saling bicara.
Membeli perangkat baru baru menyelesaikan sebagian kebutuhan. Ada pekerjaan memilih sistem, memindahkan data, menghubungkan aplikasi, menjaga keamanan, dan memastikan semuanya tetap berjalan ketika bisnis buka besok pagi. Itu contoh kebutuhan yang bisa dilayani bisnis solusi Metrodata. Layanannya memang mencakup pemasangan, pemeliharaan, sampai pengelolaan sistem.
Sementara bisnis distribusinya membawa produk teknologi global ke pasar Indonesia. Menurut pengungkapan perusahaan pada Juli 2026, jaringannya menjangkau lebih dari 330 kota, dengan lebih dari 6.000 mitra penjualan dan lebih dari 100 merek. Buatku, hubungan dengan pemasok, penjual, dan pelanggan sebanyak itu adalah kemampuan yang membutuhkan waktu untuk dibangun.
Di situlah aku melihat peluang dari perkembangan teknologi dunia. Saat perusahaan ingin memakai cloud—menyewa kemampuan komputer dan penyimpanan lewat internet—atau AI untuk membantu pekerjaannya, ada kebutuhan untuk menerapkannya dengan benar. Metrodata bisa memperoleh bisnis dari pekerjaan tersebut, sepanjang berhasil memenangkan kontrak dan mengerjakannya dengan untung.
Indonesia sudah mulai masuk ke sana, tetapi kedalamannya belum merata. Dalam survei AWS dan Strand Partners yang dirilis Agustus 2026, 56% perusahaan pengguna AI yang disurvei masih berada pada tahap mencoba, sementara 12% menyebut AI sudah terintegrasi penuh dalam operasionalnya.Ini hasil survei, bukan sensus seluruh perusahaan Indonesia. Dari sini aku melihat ruang antara mulai mencoba teknologi dan benar-benar menggunakannya setiap hari.
Ada satu angka Metrodata yang membuatku ingin terus mengikuti ceritanya: 57,5% pendapatan segmen Solusi & Konsultasi pada Semester I 2026 bersifat berulang. Angka itu berlaku untuk segmen tersebut, bukan seluruh penjualan grup. Artinya, ada layanan yang dibayar berulang selama digunakan pelanggan. Peluangnya ada pada hubungan yang terus berjalan setelah pemasangan pertama, meski kontrak tetap bisa berakhir. Sumber: laporan kinerja Semester I 2026.
Jadi, yang ingin kulihat berkembang adalah kemampuan Metrodata membantu semakin banyak bisnis memakai teknologi dengan baik. Pertumbuhan belanja teknologi dunia memberi konteks peluangnya; uang yang benar-benar masuk ke Metrodata tetap harus dibuktikan lewat pelanggan, laba, dan arus kasnya sendiri.
02 / Three years behind
Tiga Tahun Terakhir Metrodata
Chart 01
Pertumbuhan Metrodata
Dalam dua tahun, penjualan tumbuh sekitar 23% dan laba bersih tumbuh sekitar 25%. Bertumbuh, tapi tetap dengan margin yang sangat tipis.
Pertumbuhannya gak luar biasa cepat, tetapi cukup konsisten. Hal yang harus dipahami adalah Metrodata hanya menyimpan keuntungan sekitar Rp3 dari setiap Rp100 penjualan.
Menurutku ini gak otomatis berarti bisnisnya buruk. Bisnis distributor memang bermain dengan jumlah transaksi besar dan margin kecil. Namun, ini juga berarti Metrodata gak punya banyak ruang untuk melakukan kesalahan.
Sedikit kenaikan biaya, perubahan nilai tukar rupiah, barang yang terlalu lama tersimpan, atau pelanggan yang terlambat membayar bisa langsung terasa pada keuntungannya.
Memasuki paruh pertama 2026, penjualan Metrodata masih tumbuh sekitar 17%. Namun, keuntungannya hanya tumbuh sekitar 7%. Aku melihat ini sebagai lampu kuning, bukan lampu merah.
Persediaan barang dan pinjaman jangka pendeknya meningkat, sementara uang tunai dari kegiatan usahanya masih negatif. Bahasa sederhananya: banyak uang Metrodata masih tertahan dalam barang dan tagihan yang belum berubah menjadi uang tunai.
03 / Five years ahead
Apa yang Harus Terjadi agar Metrodata Menang Sampai 2031
Aku gak mencoba menebak harga sahamnya lima tahun lagi. Menurutku itu terlalu sulit dan terlalu banyak hal yang gak bisa dikontrol.
Yang lebih masuk akal adalah memperkirakan seperti apa ukuran bisnisnya jika perusahaan tetap berjalan dengan baik. Dalam perkiraanku, penjualan Metrodata bisa tumbuh sekitar 7–9% per tahun sampai 2031.
Bisnis distribusinya harus tetap tumbuh. Bisnis solusi teknologinya juga perlu memberi kontribusi lebih besar, terutama dari cloud, keamanan digital, data, dan penggunaan AI oleh perusahaan.
Aku gak berharap Metrodata tiba-tiba berubah menjadi perusahaan dengan pertumbuhan luar biasa. Aku lebih melihatnya sebagai bisnis yang bisa tumbuh pelan-pelan bersama kebutuhan teknologi di Indonesia.
Yang bisa membuat perkiraanku salah adalah kalau laba terus tertinggal dari penjualan, bisnis solusinya terlalu lama gak berkembang, atau perusahaan terus membutuhkan utang besar untuk membiayai persediaan.
Lalu, dari mana harapan naik 1.000% itu datang?
Di luar perkiraan dasar tadi, aku juga ingin melihat seberapa jauh bisnis ini bisa berkembang kalau eksekusinya jauh lebih baik. Harapan besarku untuk Metrodata adalah potensi kenaikan harga sampai 1.000% dalam jangka panjang.Aku menempatkannya sebagai skenario sangat optimistis dengan horizon sekitar sepuluh tahun, bukan hasil yang sudah didukung perkiraan dasar sampai 2031.
Supaya kebayang, naik 1.000% berarti nilai awal menjadi 11 kali lipat. Secara hitungan, Rp1 juta menjadi Rp11 juta sebelum biaya, pajak, dan dividen. Itu hasil yang besar sekali, jadi bisnis di belakangnya juga harus berubah banyak.
Ada dua hal yang bisa mendorong harga: laba untuk setiap lembar saham bertambah, dan investor bersedia membayar lebih mahal untuk setiap rupiah laba itu. Misalnya, laba per saham naik 5,5 kali dalam sepuluh tahun dan penilaian pasar menjadi dua kali lebih tinggi. Gabungannya menghasilkan harga 11 kali lipat. Ini contoh hitungan, bukan proyeksi Metrodata.
Skenario itu membutuhkan pertumbuhan laba per saham sekitar 18,6% setiap tahun selama sepuluh tahun, ditambah kenaikan penilaian pasar tadi. Kalau penilaian pasar tetap, kebutuhan pertumbuhan labanya menjadi sekitar 27,1% per tahun. Sebagai pembanding, laba bersih Metrodata pada Semester I 2026 baru tumbuh 6,6%.
Berarti yang perlu terjadi adalah percepatan laba yang bertahan lama: layanan teknologi makin besar dan menguntungkan, pelanggan terus memakai jasanya, serta pertumbuhan gak menghabiskan uang dalam stok dan piutang. Investor juga belum tentu memberikan penilaian lebih tinggi. Potensinya layak dipelajari; angka 1.000% masih harus mendapatkan pembuktiannya.
04 / The consumer business
Cimory: Pertumbuhan yang Bisa Kulihat di Rak Minimarket
Kalau Metrodata terasa jauh dari kehidupan sehari-hari, Cimory justru sangat dekat. Produknya bisa kita lihat di minimarket, supermarket, dan kulkas rumah.
Namun, Cimory sekarang bukan cuma perusahaan susu dan yogurt. Mereka juga mempunyai bisnis makanan olahan melalui merek seperti Kanzler. Bahkan pada 2025, sekitar 62% penjualannya sudah datang dari produk makanan konsumen, bukan dari produk susu.
Jadi ketika membeli saham Cimory, aku sebenarnya gak cuma membeli cerita tentang orang Indonesia yang minum lebih banyak yogurt.
Aku juga membeli cerita tentang pertumbuhan makanan praktis, produk protein, jaringan distribusi, dan kemampuan perusahaan meluncurkan merek yang disukai konsumen.
Hal yang aku suka dari bisnis konsumen adalah produknya relatif mudah dipahami. Aku bisa melihat produknya, mencoba rasanya, membandingkan harganya, dan memperhatikan apakah raknya semakin luas atau justru semakin kecil.
Produk enak harus bisa dibuat, diantar, lalu dibeli lagi.
Buatku, ada tiga hal yang perlu bekerja bersamaan dalam bisnis FMCG, yaitu barang konsumsi yang sering kita beli: kapasitas produksi, distribusi, dan jangkauan penjualan ke konsumen. Merek dan rasa membuat orang tertarik. Tiga hal ini membantu mengubah ketertarikan itu menjadi penjualan yang berulang.
Pertama, pabrik harus sanggup memenuhi pesanan. Kalau permintaan bertambah tetapi produksi mentok, ada penjualan yang gak bisa dilayani. Sebaliknya, pabrik yang terlalu besar tanpa cukup pembeli bisa membebani biaya. Cimory melaporkan enam fasilitas produksi pada 2025. Yang perlu kuikuti berikutnya adalah seberapa baik kapasitas itu dipakai dan apakah tambahan investasi menghasilkan penjualan serta keuntungan yang sepadan. Sumber: laporan tahunan 2025.
Kedua, produk harus sampai dalam kondisi baik. Yogurt dan makanan beku tertentu perlu suhu yang terjaga dari gudang sampai toko. Jadi, distribusi berarti memastikan pengiriman rutin, stok tersedia, dan biaya antar tetap masuk akal. Pada akhir 2025, Cimory melaporkan 150 truk berpendingin. Jaringan seperti ini bisa membantu membawa produk baru melalui jalur yang sudah dibangun, meski setiap tambahan penjualan tetap punya biaya.
Ketiga, ada tempat orang benar-benar membeli produknya.Modern trade berarti jaringan ritel seperti Alfamart, Indomaret, dan supermarket. General trade mencakup grosir, toko lokal, minimarket lokal, sampai warung. Laporan keuangan Cimory mencatat perusahaan pengelola Indomaret dan Alfamart sebagai pelanggan besar. Itu menunjukkan akses ke jaringan mereka, bukan berarti semua produk tersedia di setiap gerai. Sumber: catatan penjualan Semester I 2026.
Skalanya sudah lebih besar daripada puluhan ribu titik. Per Juni 2026, Cimory melaporkan 210.849 outlet general trade dan 173 mitra distributor. Angka outlet itu mencakup beberapa jenis toko tadi, jadi gak tepat kalau semuanya disebut warung. Ada juga Miss Cimory, yang membawa produk lebih dekat ke rumah pelanggan. Sumber: presentasi Semester I 2026.
Coba bayangkan contoh sederhana: 1.000 toko masing-masing menjual tambahan 10 produk sehari. Hasilnya 10.000 produk tambahan setiap hari. Ini ilustrasi, bukan angka penjualan Cimory. Tapi dari sini aku lebih mudah memahami kenapa penjualan per toko dan pembelian ulang bisa sama pentingnya dengan membuka toko baru.
Pabrik membuat produknya. Distribusi membuatnya tersedia. Konsumen yang membeli lagi membuat bisnisnya terus berjalan. Aku melihat ruang tumbuh Cimory ketika lebih banyak toko bisa dijangkau, produk yang laku makin beragam, dan pelanggan kembali membeli. Produk yang hanya menumpuk di rak belum membuktikan pertumbuhan yang sehat.
05 / Three years behind
Tiga Tahun Terakhir Cimory
Chart 02
Pertumbuhan Cimory
Dalam dua tahun, penjualan tumbuh sekitar 38%, sedangkan laba bersih tumbuh sekitar 64%. Laba tumbuh lebih cepat daripada penjualannya.
Buatku, ini menarik karena Cimory gak cuma berhasil menjual lebih banyak. Mereka juga berhasil mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari setiap penjualan.
Pada 2023, dari setiap Rp100 penjualan, sekitar Rp16 menjadi laba bersih. Pada 2025, angkanya naik menjadi hampir Rp19.
Pertumbuhan terbesar datang dari bisnis makanan konsumennya. Penjualan bagian ini naik dari sekitar Rp4,1 triliun pada 2023 menjadi Rp6,6 triliun pada 2025. Sementara penjualan produk susunya naik lebih pelan, dari sekitar Rp3,7 triliun menjadi Rp4,1 triliun.
Pada paruh pertama 2026, penjualan Cimory masih tumbuh sekitar 25% dan labanya tumbuh sekitar 18%. Angkanya tetap kuat, tetapi laba dari setiap Rp100 penjualan sedikit turun dibandingkan tahun sebelumnya.
Cimory masih berkembang, tetapi pertumbuhan penjualan yang tinggi gak selalu berarti kualitas bisnisnya otomatis membaik. Kalau perusahaan terlalu banyak memberi promo atau biaya bahan bakunya naik, keuntungan bisa ikut tertekan.
06 / Five years ahead
Apa yang Harus Terjadi agar Cimory Menang Sampai 2031
Untuk lima tahun ke depan, aku memperkirakan penjualan Cimory bisa tumbuh sekitar 10–14% per tahun.
Pertumbuhannya kemungkinan datang dari perluasan distribusi, pertumbuhan Kanzler, produk-produk baru, dan mungkin penjualan ke luar Indonesia.
Namun, semakin besar sebuah perusahaan, semakin sulit juga mempertahankan pertumbuhan yang sangat tinggi. Risiko Cimory datang dari harga susu, daging, dan ayam yang bisa naik. Persaingan juga bisa membuat perusahaan mengeluarkan lebih banyak uang untuk iklan dan promo.
Selain itu, produk Cimory dan Kanzler bukan selalu pilihan yang paling murah. Kalau daya beli masyarakat melemah, konsumen bisa saja berpindah ke merek lain yang lebih terjangkau.
Untuk Cimory, harapanku setidaknya tiga kali lipat.
Harapan jangka panjangku adalah nilai saham Cimory yang kumiliki bisa menjadi setidaknya tiga kali lipat—artinya kenaikan 200% dari harga masuk. Aku ingin melihat seberapa jauh produksi, distribusi, dan pembelian berulang tadi bisa membawa laba per sahamnya berkembang.
Kalau harga dibanding labanya tetap sama, harga saham menjadi tiga kali lipat membutuhkan laba per saham yang juga tiga kali lebih besar. Untuk lima tahun, itu setara pertumbuhan sekitar 24,6% per tahun. Kalau waktunya sepuluh tahun, sekitar 11,6% per tahun. Hitungan ini belum memasukkan dividen, biaya, dan pajak; laba per saham juga harus memperhitungkan perubahan jumlah saham.
Lima tahun berarti target yang menuntut. Pada Semester I 2026, penjualannya tumbuh sekitar 25,5%, tetapi labanya sekitar 17,9%. Jadi, pertumbuhan penjualan yang kencang saja belum cukup untuk mendukung skenario tiga kali lipat dalam lima tahun. Keuntungan yang tersisa setelah bahan baku, pengiriman, dan promo juga harus ikut bertambah.
Buatku, alasan untuk berharap ada: produk yang bisa dibeli berulang dan jaringan yang bisa dipakai untuk menjual lebih banyak. Tetapi tiga kali lipat tetap merupakan harapanku, bukan batas bawah hasil investasi. Kalau pertumbuhan laba melambat atau pasar menilai sahamnya lebih rendah, hasilnya bisa jauh di bawah itu, termasuk rugi.
07 / Price versus value
Kenapa Harganya Mulai Sulit Kuabaikan
Harga Metrodata sekitar Rp505 dan harga Cimory sekitar Rp4.690 per lembar pada penutupan 28 Agustus 2026. Tapi ini gak berarti Metrodata sembilan kali lebih murah.
Harga satu lembar saham gak bisa dibandingkan langsung karena jumlah saham setiap perusahaan berbeda. Aku lebih suka melihat berapa kali laba tahunan yang sedang diminta oleh pasar. Angka ini biasa disebut P/E, tapi cara membacanya sebenarnya sederhana: semakin kecil angkanya, semakin sedikit harga yang kita bayar untuk laba yang sama.
Chart 03
Harga yang Dibayar untuk Laba
Keduanya berada di bawah rata-rata valuasi tiga tahun terakhir. Metrodata lebih murah secara angka P/E. Cimory punya diskon lebih besar dibanding kebiasaan harganya sendiri, tetapi tetap dihargai lebih mahal karena pertumbuhan dan marginnya lebih tinggi.
Jadi jawabanku gak cuma satu kata. Kalau “murah” berarti harga paling kecil dibanding laba hari ini, Metrodata lebih murah. Pasar hanya meminta sekitar 7–8 kali laba tahunannya.
Cimory berada di sekitar 16–17 kali laba. Lebih mahal daripada Metrodata, tetapi juga jauh lebih rendah dibanding kebiasaan valuasinya dalam tiga tahun terakhir.
Menurutku, keduanya sedang berada di harga yang menarik—tetapi dengan alasan berbeda. Metrodata murah karena pertumbuhannya lebih pelan dan marginnya tipis. Cimory sedang didiskon dari harga historisnya, tetapi tetap membawa harapan pertumbuhan yang lebih tinggi.
Murah bukan jaminan harga akan langsung naik. Dan perusahaan bagus belum tentu menjadi investasi bagus kalau aku membayar terlalu mahal.
08 / My kind of risk
Hal yang Bisa Membuatku Berhenti Membeli
Harganya terlihat murah, tetapi bisnisnya tumbuh lebih pelan dan margin keuntungannya tipis. Aku harus siap menunggu tanpa berubah menjadi keras kepala.
Bisnisnya tumbuh lebih cepat dan marginnya lebih besar. Tapi rasa suka terhadap perusahaan bagus gak boleh membuatku membayar harga berapa pun.
Aku gak membutuhkan semua saham di dalam portofolioku untuk punya karakter yang sama. Justru aku menyukai keduanya karena memberikan jenis risiko yang berbeda.
Semakin lama berinvestasi, aku juga semakin sadar bahwa risiko gak selalu datang dari perusahaan. Kadang risikonya datang dari diriku sendiri.
Aku bisa kehilangan kesabaran ketika harga saham gak bergerak. Aku juga bisa terlalu percaya diri ketika perusahaan yang kusukai terus tumbuh. Aku bisa menambah investasi hanya karena harganya turun, tanpa mengecek apakah bisnisnya masih baik-baik saja.
Untuk Metrodata, aku akan mulai khawatir kalau penjualan terus naik tetapi laba dan uang tunainya gak mengikuti. Aku juga akan mempertanyakan investasiku kalau bisnis solusinya terlalu lama berhenti berkembang.
Untuk Cimory, aku akan mulai khawatir kalau pertumbuhannya terlalu bergantung pada promo, keuntungan dari setiap penjualan terus menurun, atau produk barunya gak berhasil menarik konsumen.
Aku gak harus menjual hanya karena satu kuartal yang buruk. Tapi aku juga gak mau menggunakan kata “investasi jangka panjang” sebagai alasan untuk mengabaikan masalah yang nyata.