Aku mulai mengikuti Liverpool sejak tahun 2002. Alasannya sederhana: seragamnya berwarna merah, jadi aku suka.

Apalagi, pemenang Ballon d'Or tahun sebelumnya adalah Michael Owen, pemain bernomor punggung 10. Jersey Michael Owen kemudian menjadi salah satu jersey pertamaku yang dibelikan oleh ibuku, bersama jersey Sylvain Wiltord di Arsenal dan Ryan Giggs di Manchester United.

Sejak aku belum mengerti apa-apa tentang sepak bola sampai sekarang merasa seperti orang yang paling tahu, aku sudah melihat pemain datang dan pergi, manajer berganti, stadion berkembang, dan kepemilikan klub berubah.

Namun, ada satu hal yang seharusnya tidak berubah: Liverpool tidak boleh kehilangan identitasnya hanya demi mengejar pertumbuhan.

Karena itu, ketika muncul kabar bahwa konsorsium yang melibatkan Jeff Bezos membeli sebagian saham Liverpool, reaksiku bukan sekadar senang karena salah satu orang terkaya di dunia sekarang berada di belakang klub.

Apa sebenarnya yang mereka inginkan dari Liverpool?

01 / More than a headline

Ini Lebih Besar daripada Nama Jeff Bezos

Dalam pengumuman resminya, FSG menyatakan telah menjual saham minoritas Liverpool kepada 1892 Holdings.

Konsorsium tersebut dipimpin oleh Amit Bhatia dan didukung oleh Mittal Family Trusts, K5 Sports—dengan Jeff Bezos sebagai lead investor—serta EE Capital, family office milik Elaine dan Eduardo Saverin. Eduardo Saverin merupakan co-founder Facebook yang diperankan oleh Andrew Garfield dalam film The Social Network.

Untuk sekarang, FSG masih menjadi pemegang saham mayoritas dan tetap memiliki kontrol operasional. Tujuan resminya adalah membawa pengalaman baru dari bidang bisnis, teknologi, dan investasi untuk membantu pertumbuhan klub dalam jangka panjang.

Namun, perkembangan setelah pengumuman tersebut membuat situasinya jauh lebih menarik. The Guardian melaporkan kepemilikan 1892 Holdings berada di sekitar 38 persen—lebih besar daripada perkiraan awal sekitar 30 persen—dan konsorsium tersebut memiliki jalan untuk menjadi pemegang saham mayoritas apabila FSG memilih menjual kontrol klub.

Menurutku, ini bukan investasi minoritas biasa. Ini bisa menjadi tahap awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

02 / The existing foundation

Aku Tidak Anti-FSG

Mudah untuk mengkritik FSG setiap kali Liverpool gagal membeli pemain atau ketika klub terlihat terlalu berhati-hati di bursa transfer. Namun, kita juga harus jujur dalam melihat apa yang sudah mereka lakukan.

FSG membeli Liverpool pada 2010 ketika klub berada dalam kondisi yang sangat tidak sehat. Sejak itu, Liverpool kembali memenangkan Premier League dan Champions League, membangun pusat latihan baru, memperluas Anfield, serta menjadi salah satu klub dengan pendapatan terbesar di dunia.

Mereka tidak sempurna. Beberapa keputusan memperlihatkan jarak antara cara pemilik melihat klub sebagai bisnis dan cara supporter melihatnya sebagai bagian dari kehidupan. Namun secara keseluruhan, FSG berhasil membuat Liverpool kembali kompetitif tanpa menjadikannya klub yang hidup dari pengeluaran tidak terkontrol.

Sebagai seseorang yang bekerja di bidang finance, aku menghargai pendekatan tersebut. Sustainability mungkin bukan kata yang menarik ketika supporter sedang meminta pemain baru, tetapi klub yang dikelola tanpa disiplin pada akhirnya akan membayar harga yang mahal.

Masalahnya, sustainable tidak boleh berubah menjadi terlalu nyaman. Liverpool harus terus berkembang. Para kompetitor memiliki modal, infrastruktur, commercial reach, dan kemampuan menarik pemain terbaik. Jika Liverpool berhenti bergerak, klub lain tidak akan menunggu.

03 / The numbers behind the club

Angkanya Menjelaskan Kenapa Aku Mendukung Deal Ini

Kalau hanya melihat headline, mudah untuk menyimpulkan bahwa Liverpool sekarang punya akses terhadap uang Jeff Bezos. Namun, alasan utamaku mendukung pembelian ini bukan karena aku membayangkan Liverpool akan langsung membeli lima pemain mahal.

Aku mendukungnya karena Liverpool mendapatkan partner yang berpotensi memperbesar mesin bisnis klub.

£703mFY2025 revenue
+44%Revenue vs FY2021
£323mCommercial revenue
£69mExternal bank debt

Chart 01

Komposisi Pendapatan Liverpool

FY2021–FY2025 · £ million
MediaMatchdayCommercial
£487m
2021
£594m
2022
£594m
2023
£614m
2024
£703m
2025

Revenue meningkat sekitar £216 juta dalam lima tahun. Commercial revenue tumbuh menjadi sumber pendapatan terbesar pada FY2025.

Dalam lima tahun, pendapatan Liverpool meningkat dari sekitar £487 juta menjadi £703 juta—pertumbuhan lebih dari 44 persen. Commercial revenue juga naik dari sekitar £218 juta menjadi £323 juta. Liverpool sudah memiliki fondasi bisnis yang sangat kuat; tantangan berikutnya adalah mempercepat pertumbuhan tersebut agar klub tidak terlalu bergantung pada hasil pertandingan dan pendapatan broadcasting.

Di sinilah keterlibatan Bezos, Saverin, Mittal, dan Bhatia menjadi sangat menarik. Mereka membawa jaringan di bidang teknologi, media, data, investasi, dan pasar internasional. Jika jaringan tersebut mampu memperbesar commercial revenue, dampaknya bisa jauh lebih berkelanjutan daripada sekadar suntikan uang satu kali.

04 / Balance-sheet context

Utang Liverpool Perlu Dibaca dengan Benar

Berdasarkan laporan perusahaan untuk tahun yang berakhir pada 31 Mei 2025, Liverpool memiliki gross financial debt sekitar £286,9 juta. Namun angka tersebut terdiri dari dua jenis utang yang sangat berbeda.

Chart 02

Komposisi Utang Finansial

As at 31 May 2025 · £ million
Owner / FSG loan£217.9m76% · interest-free
External bank debt£69.0m24% · interest-bearing

Gross financial debt is not the same as total liabilities. The owner loan is interest-free and economically different from bank borrowing.

Sekitar £217,9 juta merupakan pinjaman dari pemilik yang tidak dikenakan bunga, sedangkan sekitar £69 juta merupakan utang eksternal atau utang bank. Jadi, Liverpool memang memiliki kewajiban finansial, tetapi bukan berarti klub sedang berada dalam krisis utang.

Dibandingkan pendapatan £703 juta, utang bank Liverpool setara dengan kurang dari 10 persen pendapatan tahunan. Angkanya tetap harus dikelola, tetapi konteksnya jauh berbeda dari apabila seluruh £286,9 juta merupakan pinjaman bank berbunga. Laporan perusahaan dapat ditelusuri melalui Companies House.

05 / What the transaction can unlock

Uang Baru Tidak Otomatis Menjadi Transfer Baru

Transaksi yang dilaporkan bernilai lebih dari £2 miliar ini pada dasarnya adalah pembelian saham dari FSG. Karena itu, uangnya tidak otomatis masuk ke rekening Liverpool, berubah menjadi transfer budget, atau langsung digunakan untuk melunasi utang klub.

Menurutku, fakta tersebut tidak mengurangi nilai deal ini. Justru cara paling sederhana untuk melihat investasi ini—orang kaya masuk, lalu klub belanja pemain—melewatkan potensi yang paling besar.

01

Commercial engine

Teknologi, media, data, dan partnership global dapat memperbesar recurring revenue.

02

Balance-sheet flexibility

Modal baru di masa depan dapat mengurangi utang bank atau membiayai proyek tanpa membebani operasi.

03

Asia and India

Jaringan Mittal dan Bhatia membuka ruang untuk pertumbuhan komersial yang lebih dalam di pasar besar.

04

Ownership optionality

Liverpool mendapat jalur suksesi yang lebih terstruktur jika FSG kelak memilih melepas kontrol.

Dalam aturan financial sustainability sepak bola modern, kemampuan klub membelanjakan uang sangat berkaitan dengan pendapatan yang bisa dihasilkan. Semakin besar recurring revenue Liverpool, semakin besar pula kemampuan klub berinvestasi pada pemain tanpa mengorbankan stabilitas keuangan.

Liverpool pernah menjalankan pendekatan serupa ketika Dynasty Equity masuk sebagai investor minoritas pada 2023. Saat itu, FSG menyatakan hasil investasi digunakan terutama untuk mengurangi utang bank dan membiayai investasi seperti Anfield Road Stand, AXA Training Centre, Melwood, dan aktivitas transfer. Itu bukan jaminan 1892 Holdings akan digunakan dengan cara yang sama, tetapi menjadi bukti bahwa investasi minoritas dapat memberi manfaat nyata di luar bursa transfer.

06 / The responsibility

Liverpool Bukan Sekadar Aset

Bagi investor, Liverpool merupakan salah satu sports assets terbaik di dunia: global audience, sejarah panjang, pendapatan besar, stadion ikonik, dan supporter yang sangat loyal. Namun bagi supporter, Liverpool bukan sekadar aset.

Liverpool lahir dari kota dengan identitas working class yang kuat. Hubungan antara klub, kota, dan masyarakat tidak bisa dinilai hanya dengan revenue multiple atau pertumbuhan valuasi.

Karena itu, aku tetap menginginkan transparansi, perlindungan terhadap supporter lokal, harga tiket yang masuk akal, serta komitmen kepada Anfield, akademi, dan komunitas. Bagiku, itu adalah standar yang harus dipenuhi setiap pemilik Liverpool—bukan alasan untuk menolak perubahan.